Monday, January 07, 2008

First day in Krayan

27 Desember 2007

wakss?? sendal jepit 25 ribu??? apa apan nih??... tapi kata pak camat, itu hal yang wajar..kalau itu sendal jepit didatangkan dari indonesia memang segitu harganya?.. 25 ribu berarti 5 kali lipat dari harga sandal jepit di jakarta... saya cuma bisa takjub...bayangkan seberapa besar penghasilan penduduk krayan,nunukan kalau harga sandal jepitnya saja 25 ribu..

Tugas peliputan kali ini adalah yang kedua kalinya sejak saya dipindah ke trans7 pertengahan 2006 lalu.. kehidupan krayan membuka mata saya, betapa nikmatnya hidup di kota besar seperti jakarta..kawasan krayan yang berbatasan langsung dengan negara bagian sarawak ini berada di atas ketinggian hampir 1000 meter diatas permukaan laut..dan satu satunya sarana transportasi ke krayan adalah angkutan udara, dengan pesawat kecil seperti cassa dan cessna..yang pasti nggak setiap hari ada lho... belum lagi kalau cuaca buruk, otomatis nggak bakalan bisa masuk atau keluar wilayah ini..
Info inilah yang pertama kali saya dengar dari mas Jono, wwf nunukan.. hampir aja nggak jadi liputan ke krayan..tapi nggak tau kenapa..penasaran banget ama daerah ini..bener bener penasaran..sampai akhirnya dikenalin Lolo ama bang Hartin, asintel Kodam Tanjungpura.. dari dialah semua jalan ke krayan terbuka...

Dari Balikpapan saya dan ega transit di Tarakan dulu..perjalanan Balikpapan Tarakan saja menghabiskan waktu 1 jam, sama dengan Jakarta Surabaya..fiuhh.. betapa luasnya pulau kalimantan..
gerimis menyambut kami saat mendarat di bandara juwata, Tarakan.. udah lemes aja nih..jangan jangan nggak jadi terbang ke Krayan karena hujan.. setelah menunggu lebih dari 1 jam, akhirnya saya dan ega terbang juga dengan pesawat cassa milik DAS.. dan kami terbang eksklusif hanya dua penumpang...bersama barang barang logistik yang dikirim ke Krayan...hehe...

Perjalanan yang bising banget kami tempuh sekitar setengah jam.. ke Nunukan dulu..transit sekitar 30 menit.. Kami bak tamu istimewa di Nunukan..disambut langsung oleh pak Taufik, Dandim Nunukan..mungkin dia kira saya masih family asintel..sepertinya dia kaget karena tamu yang disambut bukan ibu ibu yang cantik dan rapi..karena kami memang lebih mirip dua mahasiswi ingusan yang mau jalan jalan bukan bekerja...tapi diluar semua itu, pak Taufik memang pribadi yang ramah dan kebapakan...

Mendarat di Long Bawan, ibukota kecamatan pukul 3 sore wita, setelah perjalanan sekitar 30 menit dari nunukan..dari jendela pesawat saya lihat ada rombongan bapak bapak berdiri berjajar di pinggir landasan..ada TNI, ada polisi, dll... siapa yang ditunggu ya?.. masak nunggu kami? memang sih bang hartin sempat bilang kalau nanti bakal disambut jajaran muspika..tapi saya nggak mengira kalau sambutannya di pinggir landasan langsung...

dan mereka ternyata juga nggak mengira kalau kamilah yang akan disambut..hehe..lagi lagi gara gara penampilan yang kaya' anak ingusan.. (kata pak danki setelah beberapa hari kami di Krayan..) mereka pikir adik asintel penampilannya pasti rapih dan necis..sementara saya cuma pakai kaos, jaket, dan sepatu keds, dan rambut terbang kesana sini gara gara angin..ega amsih mending..agak rapian dikit..pakai turun pesawat juga nggak nunggu diambilin tangga..kami langsung lompat aja..dan semakin bengonglah jajaran muspika Krayan..

semua penat perjalanan tergantikan dengan sejuknya udara Krayan...tapi langsung sakit perut dan pinggang gara gara jalanan desanya yang aduhai ancurnya...kami langsung diantar ke penginapan pak Yagung Bangau, kepala adat Krayan..

Misi pertama saya di Krayan adalah menembus Ba'kelalan Sarawak Malaysia.. disana ada pasar yang menyuplai hampir 95 % kebutuhan warga Krayan, dan warga Krayan hanya bisa menjual berasnya ke pasar Ba'kelalan..soalnya kalau dijual ke Tarakan, petani gak bakalan untung..kalah mahal dengan ongkos angkut pesawatnya..

Sebenarnya saya pengen langsung ke Long Midang, desa terakhir di dekat perbatasan Indonesia Malaysia..tapi pak camat Servianus menolak..alasannya di sana hujan dan jalanan jahat, tidak bisa di tembus.. sempet BT aja sih..saya sempet ngerasa, liputan saya bakal diatur atur mereka..pak servianus janji esok pagi kami pasti diantar ke Long Midang..

Di Krayan sebenarnya sudah ada pos imigrasi, tapi tidak berfungsi karena di negara tetangga belum dibangun pos imigrasi..jadinya kami akan masuk Sarawak sebagai pelintas batas seperti warga lainnya...memang.. karena tanpa visa, kami akan menyamar jadi adik salah satu personel TNI di pos pamtas Long Midang.

"wah kalau kamera seperti ini nggak mungkin masuk mbak..pasti ketahuan kalau mbak wartawan" lemes rasanya dengar komentar pak danki alias komandan kompi wilayah krayan..
kamera PD150 gak mungkin kami bawa..pusyiiiinggg..tapi lagi lagi semua seperti dimudahkan Allah..kami dipinjami handycam warga...bang Yacob, sang pemilik handycam benar benar sukarela meminjamkan handycamnya tanpa bayar dan kasetnya juga nggak mau diganti...benar benar berhati mulia orang orang Krayan...tapi kami sempat bingung karena model handycam lama milik bang Yacob...

setelah urusan kamera beres, pak Servianus mengajak kami jalan jalan ke desa Brian Baru yang katanya enggak jauh...disana kami akan diajak melihat warga yang lagi panen beras krayan.. oya, beras jenis adan yang tumbuh di Krayan memang OK banget..beras organik ini ditanam setahun sekali dan nggak pakai pupuk..nasinya enak banget dan ukuran berasnya lebih kecil dari beras biasanya..

Selama perjalanan berangkat dan pulang dari desa Brian Baru, saya baru ngeh..kenapa pak camat ngelarang kami ke Long Midang sore itu.. perjalanan tanpa hujan aja sudah cukup sengsara..apalagi kalau kondisi hujan...tapi ini adalah liputan pertama saya yang dikawal begitu banyak orang...risih juga sih...tapi gimana lagi??..

Kecamatan Krayan memang sudah memiliki pembangkt listrik tenaga air, yang sayangnya hanya berkekuatan 30 kwa alias cuma bisa dipakai untuk 100 rumah saja.. padahal kecamatan ini dihuni lebih dari 1000 kk..alhasil penggunaan listrik bergantian menjadi solusi, selain genset bagi yang mampu.. ya.. karena di sini harga bahan bakar bukan main mahalnya.. 10 ribu rupiah per liter...lha wong harga sandal jepitnya saja 25 ribu...puyeng nggak siihh...

hari itu saya tutup dengan obrolan panjang bersama pak camat...

1 comment:

hengki_gelate said...

haloo saya hengki mahasiswa dari krayan kuliah di UNIV. MULAWARMAN yang kemaren kebetulan gak sempet nonton daerah ku yang lagi di tayangkan di trans 7 udah 4 tahun nih gak pulang sejak SMA th 04 sampe sekakarang.......hehehehe jadi aku dagh baca semuanya apa yang di liput disana hehehe keren juga sih ada kemajuan di daerah ku wew............ kapan lagi nie kekrayan heheheheheheh