Wednesday, July 29, 2009

.......sorot mata itu....

Sorot mata itu terlihat lagi...
Sekelebat saja...
Tapi aku mengenalinya...
Dan aku merindukannya...

walau sekejab...

terima kasih untuk hari yang indah...
walau sekejab...
tetap terasa indahnya...
walau sekejab...
tak perlu lagi bicara...
kunikmati saja yang ada...
walau sekejab...
waktu yang tersisa...
untuk kita...

kita....

persahabatan yang tulus akan mengalir begitu saja...
tanpa disadari... tanpa paksaan... tanpa pamrih..
persahabatan yang tulus akan selalu membutuhkan ujian untuk membuktikannya....
melewati perbedaan.. melewati pertengkaran... melewati marah dan tangis...
tapi persahabatan sejati akan mampu melewatinya...
karena kita saling menerima perbedaan itu...
karena kita memang membutuhkan pertengkaran itu...
karena kita... adalah kita....


Depok, 29 Juli 2009..
special for CC crew...
tetap semangaaaat..

Monday, July 27, 2009

Bukan aku....

Aku tahu...
Gelak tawanya sedang temani malammu...
Binar matanya sanggup hapuskan rindumu...
Belai lembutnya telah hilangkan lelahmu...
Aku tahu...
Hanya ada dia untukmu...
Hanya dia...
Bukan aku....

Depok, 27 Juli 2009

Bukan aku....

Aku tahu...
Gelak tawanya sedang temani malammu...
Binar matanya sanggup hapuskan rindumu...
Belai lembutnya telah hilangkan lelahmu...
Aku tahu...
Hanya ada dia untukmu...
Hanya dia...
Bukan aku....

Depok, 27 Juli 2009

Seharusnya begitu...

Sepertinya kamu pun berusaha lepaskan itu...
Seolah semuanya hanya angin lalu..
Tak pernah ada aku disitu...
Dan tak ada arti bagimu...
Tapi memang seharusnya begitu..
Karena kita tak mungkin satu...

Hanya ini...

Aku tak bisa katakan itu padamu...
Tak mungkin juga ungkapkan untukmu...
Hanya terasa pahit bagiku...
Yang kubisa hanya ini...
Tuliskan ini...
Hanya disini...

Saturday, July 25, 2009

Semu....

Waktu begitu lama berlalu...
Aku ingin cepat datang bosanku...
Hingga tak perlu lagi rindu itu...
Karena semuanya hanya semu...

Friday, July 24, 2009

Inginku...

Inginku menyapamu..
Tuk sekedar melepas rindu...
Tapi, kutahu itu tak perlu..
Karena akan menambah sakitku...
Biarkan saja mati perlahan...
Atau membeku dalam kejemuan....

Thursday, July 23, 2009

Bagan untuk NKRI... from Ambalat with love...

h. asdar: " bener nih mba mau ikut ke bagan??.."
dina : " iyah.. bener pak... saya kan harus ikut..masak reporternya gak ikut, nanti yang bantu cameramannya siapa doong??"
h. asdar: "mau nginap atau langsung pulang??.."
dina : " nginap dong pak.. ya pokoknya saya mau ambil gbr lengkap.. semua aktivitas di bagan"
h. asdar: " hmm.. ooh ya udah nanti kita buatkan tangganya, biar mbaknya gampang nanti naiknya.. kalau istri saya dulu naik bagannya saya gendong"
dina : " oohh iya ya pak.. pokoknya saya ikut yaah...nanti sore kami udah standby di sini"

Dengan gagah berani pokoknya saya ngotot ikut... saya nggak tau seperti apa bentuk dan rupanya bagan milik haji asdar.. yang saya tau bagan itu terapung di lautan atau sungai, untuk tangkap ikan, dengan rumah kecil diatasnya.. lagi pula dari keterangan pak camat, bagan para nelayan di sebatik itu luasnya sekitar 25 m2. hmm lumayan luas kan?...
kata pak camat juga, bagan bagan nelayan sebatik itu berada di ambalat atau ambang batas laut antara Indonesia dan Malaysia... itulah yang membuat episode ikan teri ini langsung diamini oleh produser.. pokoknya semangat banget deh...

tapi itu adalah kondisi di siang hari..dan saat malam tiba, nyali saya langsung ciut saat melihat sosok bagan yang bikin penasaran itu... Oh My God... senyum dan tawa saya langsung hilang melihat bagan yang akan saya tinggali selama satu malam nanti..


beginilah rupa dan bentuk bagan itu... tingginya sekitar 4 meter dari permukaan air laut.. dan hanya berupa batang batang kayu.. gak ada alasnya.. hanya ada alas jaring untuk menjemur ikan teri.. bagan ini dilengkapi lampu di bagian dasarnya untuk memancing ikan teri masuk perangkap jaring... ini juga alasannya kenapa nelayan bagan baru bekerja malam hari..

anak buah haji asdar dengan cekatan memanjat kayu kayu bagan dan memasang 4 batang bambu untuk dijadikan tangga..

dan saya masih ternganga ...gak percaya ini akan terjadi... mau balik pulang itu juga tengsin..udah semangat siangnya, masa' langsung ciut.. lagian kasian wisnu kalo dia sendirian. saya masih berusaha menenangkan pikiran dan tetap menjaga wibawa.. heheheh..
tapi tetep aja gak bisa boong kalo saya emang takut banget naik ke bagan... bukan apa-apa sih.. masalahnya adalah bentuk bagan itu sendiri yang cuma pijakan batang bambu, trus tambah lengkaplah ketakutan karena gak bisa renang.. saya cuma bayangkan, kalo pas menginjak bambu, trus kepeleset.. padahal bawahnya langsung laut.. hadooohh... susah bener yak kerjaan ini...

tapi akhirnya saya sampai diatas juga dengan gemetaran menyusuri bilah bambu..dibimbing pak camat dan haji asdar, dan diiringi tawa wisnu yang menyebalkan..

sampai di atas bagan saya menuju ke tempat yang paling aman.. sebuah gubuk berukuran 1x3 meter..biasanya disinilah tempat berisitrahat para nelayan bagan.. di dalamnya lengkap ada kompor, wajan, panci, sampe soundsystem.. biar sempit, inilah tempat yang paling aman dan nyaman selama di bagan...setidaknya sampai takut saya ilang atau berkurang... dari lantai kayu gubuk terlihat jelas ombak lautan di bawah... huuffhh.. tapi paling nggak lantainya cukup rapat...

Cukup lama saya menenangkan diri di dalam sambil buat naskah.. (karena gak tau kondisi bagan, saya bawa laptop buat nyicil naskah episode sebelumnya)..sementara wisnu mulai beradaptasi sama lingkungannya barunya.... keliling bagan.. badan wisnu lumayan ramping alias kurus.. dia lincah sekali loncat sana sini sambil bawa kamera...

sekitar jam 22.00 wita, pak asdar mulai mengangkat jaringnya..awalnya saya cuma dengar teriakan riang anak anak talent kami lihat hasil tangkapan teri... lama lama saya jadi penasaran juga.. akhirnya saya beranikan diri keluar gubuk derita itu..bak pengumpul ikan teri dan tempat memasaknya gak jauh sih dari gubuk cuma sekitar 3 meter aja.. di belakang gubuk persis. tapi jalan buat kesana ituloh, yang penuh cobaan... saya harus meniti bambu lagi sambil pegangan atap gubuk.. dan dibimbing pak camat tentunya...tapi kali ini gak ada ketawa wisnu, dia lagi sibuk ambil gambar sendiri.. astaga.. saya jadi gak tega sama anak itu.. saya harus berani..paling nggak, saya ada di sekitar dia, bukannya malah sembunyi di gubuk..kan senasib sepenanggungan...

malam itu tangkapan teri cukup bagus kata haji asdar.. haji asdar dan para nelayan bagan sebatik punya perhitungan tanggal berdasarkan bulan.. akhir bulan sampai awal bulan katanya tangkapan bagus karena arus sedang tenang..apalagi kalau sedang musim angin selatan, antara bulan juni sampai nopember. saat itulah yang paling ideal untuk menjaring teri, karena arus laut cukup tenang saat malam, dibandingkan musim lainnya..

setelah diangkat ikan teri dipilih, dipisahkan dengan hewan laut lainnya yang ikut terjaring..ada ubur ubur gede (langsung dibuang ke laut lagi), trus ama sotong (yang ini enak)... ikan teri langsung direbus, kata haji asdar inilah yang bikin teri ambalat enak. rebusnya pakai air laut campur garam.. maksudnya ditambah garam lagi. meskipun air laut sudah asin, tetap harus tambah garam supaya hasilnya kering dan bagus.. haji asdar sudah tau takaran pas untuk garamnya.. 15 liter air + 0,5 kg garam untuk 4 kali perebusan.
Setelah direbus, teri langsung ditiriskan.. dan siap untuk dijemur..

Malam itu saya dan wisnu memang bertekad nggak tidur untuk melengkapi gambar di bagan. apalagi waktu angkat jaring pertama, wisnu nggak dapat gambar lengkap, karena bingung mau yang mana duluan sementara dia gak mungkin gerak cepat dengan kondisi bagan kayak gitu.. kami rencana akan ambil gambar angkat jaring kedua jam 2 dini hari..

tapi rencana tinggal rencana.. tepat jam 12 malam hujan deras turun... tutup kamera, masuk ke gubuk derita.. sementara wisnu, haji asdar, pak camat dan yang lainnya tidur diatas jaring berselimut plastik terpal.. gak ada yang bisa kami lakukan lagi..dari pada kameranya basah trus rusak, tambah panjang itu urusannya...

pk. 05.00 wita saya terbangun... semburat merah jingga menerobos ke pintu gubuk.. SUNRISE.. bisa dibilang saya gak punya perasaan waktu itu.. tapi demi gambar bagus, biarin ajah... saya minta haji asdar bangunkan wisnu sampai bangun..dan saya langsung kasih tripod dan kameranya, gak peduli dia masih setengah merem... mentari terbit indah sekali... luar biasa.. sambil nunggu mentari, haji asdar dan pak camat membakar sotong untuk sarapan... subhanalloh... uenaaak banget... sotong bakar terasa manis gurih, meskipun tanpa bumbu...

semua ketakutan saya tadi malam hilang.. menikmati mentari sambil makan sotong... tapi tetep deg degan, gara2 wisnu ambil gbr dari ujung bagan dan tetep pake tripod.. salut...tapi bikin saya berdoa sepanjang dia ambil gambar sunrise..



sambil makan sotong saya dengarkan pengalaman haji asdar membangun usaha ikan terinya... cerita yang membuat saya sungguh kagum akan keuletannya...



Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini awalnya nggak ada niat jadi nelayan bagan.. Asdar muda merantau meninggalkan bone 12 tahun lalu, untuk bekerja di Malaysia.. dengan kapal laut, sampailah ia di pulau sebatik, pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia.. Asdar pun bekerja di negeri tetangga sebagai buruh di perusahaan kayu.. hanya 3 bulan bertahan.. "tidak ada untung kerja di Malaysia,biaya hidup tinggi" kenang haji asdar..
mulanya asdar muda ingin kembali ke tanah bone..tapi, tertahan karena salah satu kerabatnya yang tinggal di desa sungai nyamuk, sebatik mengajaknya bekerja di sawah..
darah pelautnya tak bisa membuatnya bertahan lebih lama di sawah.. cukup 4 bulan saja, dan asdar muda kembali ke laut..menjadi nelayan udang bersama sepupunya yang tinggal desa sungai taiwan, desa yang kini ditinggalinya..

Dalam satu bulan, haji asdar bisa mengumpulkan uang 200 RM.. hanya 10 bulan ia menjadi buruh penangkap udang.. setelah menikah dengan Samsidar, wanita bone yang besar di Sebatik, haji asdar dapat pinjaman perahu dari sang mertua....
keuletan asdar muda teruji disini... hanya 2 tahun, ia bisa membeli perahu sendiri.. dan menjalankan usahanya sendiri... Haji asdar menjadi nelayan tangkap udang selama 7 tahun, dan selama itu haji asdar punya 11 perahu penangkap udang dan belasan anak buah...

tapi kejayaan udang nggak berlangsung lama.." tangkapan udang berkurang sejak banyak kapal trawl dari Malaysia...." dan mulai tahun 2004, haji Asdar mulai membangun bagan tancap pertamanya...haji asdar memang nelayan yang ulet... dari hanya 1 bagan, kini ia punya 7 bagan dengan sistem komisi untuk nelayan yang mengelolanya.. haji asdar sudah jadi tauke ikan teri...
haji asdar nggak sendiri... istrinya samsidar juga punya andil besar... mereka berbagi tugas.. jika haji asdar di bagan, sang istrilah yang bertugas membawa teri kering ke pasar tawau Malaysia...
di Malaysia, teri kopek dari ambalat terkenal dengan bilis sutra. bilis berarti teri.. oleh pedagang pasar, tiap kilogramnya dihargai 8,5 RM atau sekitar Rp.25.000,-
dari 7 bagan miliknya, haji asdar menerima sekitar 3 juta rupiah tiap bagan... penghasilan yang cukup besar bukan??...

luar biasa memang...pak haji yang ada di depan saya ini relatif masih muda.. sosoknya santun dan bersahaja.. umurnya belum sampai 40 tahun, tapi sanggup mengubah nasibnya dari buruh udang tangkap jadi tauke ikan teri di pulau Sebatik...saya semakin semangat menyimak ceritanya...sambil tetap mengunyah sotong bakar tentunya...

semua sukses keluarga haji asdar bukan tanpa cobaan.. awalnya haji asdar mendirikan bagannya sangat dekat dengan perbatasan.. ini membuatnya sering dapat teror dari tentara laut Malaysia...apalagi waktu itu belum banyak patroli TNI AL.. haji asdar tak gentar.. karena ia hanya cari rejeki di ambalat.. dan bukan tanpa alasan nelayan sebatik membangun bagan di perairan ambalat.. semula alasannya sangat sederhana.."disini arusnya kecil, jadi banyak ikan terinya"...

tapi akhirnya haji asdar mengalah... ia pun memindahkan bagannya ke bagian selatan.. dan membangun bagan bagan berikutnya.. " saya senang, sekarang ada patroli.. jadi tenang"... sengketa ambalat, bisa jadi membawa berkah bagi haji asdar dan nelayan sebatik lainnya.. keamanan mereka terjamin sekarang, karena TNI AL rajin patroli di perairan itu.Untuk urusan sengketa Ambalat, haji Asdar tidak takut.. ia yakin perairan Ambalat itu milik NKRI...

Jangan pertanyakan nasionalisme haji Asdar, meskipun tiap hari ia menggunakan mata uang ringgit untuk transaksi, dan menjual terinya ke Tawau, Malaysia. Karena bagan bagan yang didirikannya kini tak sekedar untuk mencari nafkah..."bagan bagan kami, nelayan Sebatik ini akan jadi penanda bahwa Ambalat milik Indonesia" matanya menerawang jauh ke cakrawala di ufuk timur... menyudahi ceritanya...

kata kata haji asdar terus terngiang, saat saya mengunjungi mercusuar karang unarang keesokannya.. dan saat kami harus kembali melengkapi gambar di bagan, dua malam berikutnya... (yang ini gak pake nginep, mau ada badai katanya...)

dan nggak cuma haji asdar yang yakin ambalat milik kita, saya pun juga.. jadi seharusnya tak perlu ada sengketa..karena sudah pasti milik kita... milik NKRI..

malam itu, bintang bertaburan bagai bunga di langit Ambalat. cahaya bulan berpendar lembut, mengiringi perjalanan kami dari bagan menuju desa... indah sekali...menatap langit sambil tiduran di perahu terasa begitu damai... subhanalloh...

Salut untuk para nelayan Sebatik dan masyarakat yang tinggal perbatasan.. mereka setia menunggu janji pemerintah untuk serius membangun wilayah perbatasan..

Wednesday, July 22, 2009

Bintang Ambalat... apa kabarmu???

Mentari sudah pulang...
Malam pun menjelang...
Lagi-lagi gelisahku datang....
Apa kabarmu bintang ambalat???...

Sungguh aku rindu...
Kerlip lembut cahayamu membuatku terpaku..
Hingga tak satu katapun terucap saat ku harus tinggalkanmu...
Saat ini ku hanya bisa mendekap redup cahayamu..
Merasakan indahnya kita di hening malam...

Kutahu, hanya waktu yang bisa menjawab..
Rinduku... gelisahku..
Sampai aku jemu...

(Depok, Juli 2009)
note: thanks to mba evelyn yang bantu saya buat ini..

pagi ini....

pagi ini...
masih terasa indahnya kita...
nikmati mentari yang baru datang..
harum lautan membelai tawa..
menatap pelangi di selatan yang malu malu...
semua masih terasa...
pagi ini...
di ujung dermaga itu....

Sunday, July 19, 2009

bunuh saja....

aku harus membunuhnya sekarang...
sekarang juga !!....
sebelum semuanya menjadi hancur dan terluka....
aku harus membunuhnya sekarang...
sekarang jugaa !!!
nikmati indahnya pedih dan perihnya...
biarlah waktu yang kan menjawab dan menyembuhkannya...

(RS Mitra Depok, 19 Juli 2009)