Wednesday, April 13, 2005

kejamkah dunia?

memandang indah senja losari...
menapaki jalanan sepanjang pantai...

dari balik teralis mata mata menyala...
tapi ada sebersit duka di sana...
tawa kosong napi penghuni lapas..

dan terdengar lengking nyaring suara aco'..
si pengamen cilik dengan gitar mungilnya...
diantara kerlip lampu kaki lima tanjung bunga...

entah otak atau hati yang tak berfungsi...
ketika tertawa disela ratapan dan keluh kesah...
entah akal atau nurani yang mati...
saat tersenyum diantara deraian air mata...

7 hari sudah di makassar...
yah.. 7 hari...

setiap hari hanya mencari penderitaan...
yang tidak hanya sekedar penderitaan...

begitu kejamkah dunia?...

senja di losari

di sini...
duduk disini....

angin semilir tenang..
tapi laut sedikit bergelombang...

sayang.. senja hanya remang remang..
tak ada kilau kemasan yang garang...

tapi aku tetap disini...
menikmati sendiri..

Friday, April 01, 2005

nenek wati..

"jangan nak... kasihan anak anak saya kalau lihat di tv...biar saya saja yang begini menanggung malu..." hanya itu yang terucap dari bibir peotnya..

nenek.. begitu ia kerap di sapa..terlunta lunta di emperan stasiun tanah abang dengan dua anak laki laki yang masih kecil...

umurnya masih 42 tahun.. belum pantas seharusnya untuk dipanggil nenek.. apalagi belum punya cucu.. tapi kenapa dipanggil nenek? "entahlah..mungkin karena penampilan saya yang kaya' nenek.." jawabnya..
yah... beban hidup yang berat membuat nenek wati lebih tua dari usianya..

nenek wati merantau ke jakarta dengan sejuta harapan bisa hidup lebih baik dari pada di lampung, kota yang menyimpan sejuta kenangan pahit dalam hidupnya. Di kota inilah.. suami tercinta menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan wanita lain..."saya cuma terima kuburannya aja" begitu sesalmu..
yah..laki laki yang dicintai hidup mati itu menikahi seorang janda kaya di bandar metro.. jelas tanpa sepengatahuan nenek wati... "waktu itu saya lagi pergi silaturahmi ke rumah saudara di palembang" jelasmu..

sepulang dari palembang kabar itu baru terdengar.. nenek..nenek.. betapa hancur hatimu menerima kenyataan itu.. padahal dulu.. semuanya ditanggung berdua.. pahit manis kehidupan dirasakan bersama.. termasuk saat abdulrahman, suamimu kena phk dari pt. pusri tahun 87 silam.. "tapi kami tak putus asa" katanya..

berbekal pesangon 11 juta, mereka buka usaha panglong kayu di palembang... dan sejak itulah semuanya seperti luruh entah kemana..
usaha panglong bangkrut karena ditipu rekan kerja.. "habis habisan uang.. buat bayar utang sana sini" katanya..

dengan sedikit sisa uang yang ada, mereka pindah ke bandar jaya.. berharap nasib bisa berubah disana.. "jadi buruh singkong juga tak apa, asal bisa makan dan anak anak sekolah.." matanya menerawang jauh..mengenang urutan kejadian yang membawanya ke jakarta..

dari bandar jaya keluarga itu memutuskan pindah ke bandar lampung.. mencari peluang usaha yang lebih besar.. nenek wati memang punya jiwa dagang tinggi.."saya pengen dagang kecil kecilan, biar baju bekas juga tak apa" selalu begitu katanya.

di bandar lampung mereka punya usaha pot tanaman.. suami istri yang kompak berdagang.. "suami buat pot, saya yang jual keliling" jelasnya. semuanya berjalan baik.. keluarga mereka hidup rukun... dan biar pas pasan, anak anak mereka masih bisa sekolah...apalagi sang suami mendapat tawaran pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah pelayaran di bandar lampung.

dan sejak itulah badai kembali menerjang kehidupan nenek wati.. sang suami tercinta bertemu dengan wanita lain..dan nenek watipun dimadu..
"sakit hati saya..tapi rela..ikhlas demi bapak biar nggak stress" paparnya sambil terisak.."mungkin sudah takdir saya dia nikah lagi"..

sebenarnya wanita mana yang mau dimadu?.. tapi nenek wati mencoba tegar.. demi anak anak ia rela berbagi kasih dengan janda kaya itu.. dan sang suami tercinta memilih untuk tinggal bersama istri mudanya.

usaha pot bunga yang mereka rintis pun usai sudah.. nenek wati hanya mengandalkan keahliannya memijat saja untuk menyambung hidup bersama 4 anaknya. apalagi waktu itu nenek wati sedang hamil anak kelimanya.

.."saya gak cerai..kasihan anak anak, lagipula suami suka datang kasih uang buat anak anak" jelasnya.. bahkan sampai akhir hayat sang suamipun wati tak tahu..

kematian suami tercinta 7 tahun lalu menambah muram hidup nenek wati..tak ada lagi sokongan dana untuk anak anaknya.. mereka terancam putus sekolah..tak hanya itu..nenek wati juga bingung akan tinggal dimana.. maklumlah..selama ini mereka tinggal di rumah sewaan.

hari demi hari nenek wati terus berusaha mencari langganan pijat..sambil berdagang pempek.. berpindah pindah tempat tinggal.. dari satu kontrakan ke kontrakan lain gara gara diusir tak bisa bayar sewa..gali lobang tutup lobang.. begitu seterusnya.. tahun demi tahun berganti.. sampai dimana nenek merasa tak sanggup lagi membiayai sekolah tiga anaknya..

dengan berat hati ia menitipkan tiga anak perempuannya ke sebuah yayasan panti asuhan, dengan harapan mereka bisa terus sekolah..."mereka masih ingin sekolah.."katanya.

nenek wati masih tetap bermimpi bisa cari uang banyak.. ia pun tergiur dengan tawaran seorang kawan untuk memijat di jakarta.."katanya di jakarta enak nek..bisa cepet kaya mijat disana"..dan dengan berbekal uang 200 ribu.. nenek wati merantau ke jakarta dengan 2 anaknya..uang itupun pemberian dari pemilik yayasan.

ternyata hidup di ibukota tak seindah yang dibayangkan.. malang benar nasib nenek wati.. uang bekalnya di bawa lari oleh orang yang dikira kawannya..

yah.. apa mau di kata.. nenek wati tak bisa berbuat banyak selain terus berjalan... berjalan..menyusuri jalanan panas jakarta.. menyelinap di gang gang sempit di tengah belantara jakarta.. menawarkan jasa pijatnya..

nenek..nenek.. apa yang kau rasakan pasti pahit.. sering diusir dari kos gara gara tidak bayar sewa.. sedang penghasilan dari jasa pijat hanya cukup untuk makan sehari hari.. pernah ingin bunuh diri tapi batal karena ingat anak..

nenek wati juga sering dihina dan diusir saat minta sumbangan... "siapa yang ingin jadi begini..saya malu minta minta..tapi saya kepepet..gimana lagi?" isak tangisnya makin menjadi.

nenek nenek... kau tetap berusah tegar..di tengah belantara jakarta.. berharap bisa kumpulkan sedikit uang untuk pulang ke lampung.. ke kota dimana 3 anakmu tinggal....

"jakarta kota yang indah nak.. tapi tidak semua indah yang kita rasakan..pahit jakarta..gak semua indah..."