Monday, December 26, 2005

napak tilas 2

menggapai mimpi...

Program ceria dengan cita cita mulia untuk para pengamen jalanan mewujudkan mimpi mereka.... punya album rekaman karya sendiri... Walaupun ceria.... demi rating, program ini tetap menggali kisah dramatis dari para pengamen yang menjadi narasumbernya....

Berbagai strategi dilakukan untuk membuat kisah mereka semakin dramatis.. Mulai dari pendekatan ringan seperti traktir makan sampai kesabaran mendengar curhat mereka, yang akan jadi sumber cerita.
Tentu saja tak semua bisa dipercaya..perlu pendalaman dan konfirmasi sana sini tentang kebenarannya.

Tak hanya itu, berbagai kejutan pun disiapkan untuk menambah kedramatisan kisah hidup mereka.. seperti keinginan seorang pengamen membelikan baju untuk ibu dan adiknya, yang kemudian diakomodir oleh tim menggapai mimpi.. Tentu saja proses pemberian baju itu diatur sedemikian rupa agar tampak lebih dramatis... Dan hujan airmata pun jatuh di rumah kecil sang pengamen....

Itu hanya salah satu kejutan yang diberikan menggapai mimpi. Banyak kejutan dahsyat lainnya yang diperkirakan pasti menguras airmata mereka.... Namun tidak semuanya berjalan mulus sesuai yang diinginkan...beberapa malah meleset dari perkiraan...

Seperti seorang pengamen yang begitu tegar tanpa airmata..sebut namanya Fredi.... kami mencoba mewujudkan keinginannya pulang ke kampung halamannya di tanah samosir, sumatera utara... lokasi yang jauh dari Bandung, tempat ia tinggal sekarang.. Perjalanan lebih dari 15 jam dari Bandung via darat dan udara.. hmm.. perjalanan yang melelahkan tentunya...

Kami berharap ia akan menangis gembira saat kami sampaikan ia dan ibunya akan terbang ke tanah leluhurnya.... Tapi..apa yang terjadi?.. Saya dengar seseorang dibelakang berusaha menahan jatuhnya ingus dan airmata.. (srut.. srut.. srut…) lirih sih..tapi tetap terdengar..

Kameramen senior kami.. ternyata gampang tersentuh hatinya.. tak hanya dia seorang, sopir mobil sewaan di medan yang mengantar kami ke samosir pun tak kuasa menahan airmatanya...saat Fredy berdoa di makam ayahnya diiringi lolongan tangis sang ibu....... Sementara fredy tetap tegar..tanpa airmata ...

Yah...mungkin bisa dibilang ini adalah hubungan yang saling menguntungkan... Di satu pihak televisi diuntungkan dengan hujan airmata mereka yang akan meraih simpati pemirsa... Dan di pihak lain, para pengamen diuntungkan dengan terwujudnya keinginan mereka... Walau bukan mimpi mereka punya album rekaman sendiri seperti dalam slogan menggapai mimpi....

Saya jadi ingat komentar salah seorang teman.. “mimpi itu kan gakk nyata..jadi bagaimana mau digapai?...ibarat menggapai sesuatu yang gak nyata dong?”

Wednesday, December 21, 2005

napak tilas 1

Agustus 2004

''dina... Selamat yah....kamu sekarang di program kd, kejamnya dunia... Hahaha..gak usah ngurusin sby lagi..'' tawa mbak endah (produser malam) masih terdengar di seberang...meninggalkan saya yang terbengong takjub tak percaya semua ini akan menimpa saya.... Waduh....sialan banget yah..kutukan apa.. sampai saya ada di program aneh begini..

Baru masuk transtv.. baru 3 bulan di reportase.. Baru ngerasain liputan harian...baru belajar jadi jurnalis.. Eeehhh.. Lhah kok dipindah disini...

Kejamnya dunia resmi mengudara 22 september 2004 dan mulai 1 oktober 2004, tayang tiap hari alias striping.. program hujan airmata dan penuh rekon ini tayang setiap hari....

Gak kebayang banget.... Tapi mungkin ini gara gara kualat ama ipul dan icut..(yg bikin pilot project kd yg luar biasa hujan air mata itu..hihi..)

Karena waktu mereka sibuk liputan dan rekon sampe dini hari..(dengan muka kuyu, cape' kurang tidur.. plus peralatan segambreng), saya sering godain mereka.. Berikut petikannya:

Dina: ''dari mana cut..? ipul? Kok cape banget?''
Icut : '''abis rekon..'' (tampang lesu kecapaian)
Dina: ''emg program apa sih?
Icut: ''kejamnya dunia...''
Dina: ''wahhh... Kacian banget.. Mending kalian aja yg diliput... Kejam juga kan? dini hari gini br kelar... hihihi.....kacian de..loo...''

Begitulah... Dan sejak pengumuman reshuflle kabinet terbatas (alias rolling di pertengahan musim) malam itu..saya pun bergabung dengan mereka... Gantian dong..saya dicelain ma icut maricut..uuuhhhh...

Sempat terpikir.. apa ini hukuman buat saya.. Mungkin gak becus kerja di reportase.. Karena bukan proses yg mudah buat saya masuk di program ini.. Apalagi saya tukang protes..

waktu itu buat saya program ini gak news banget , beda ama program sebelumnya, reportase..sebel deh..
liat aja.. Nama program.. kejamnya dunia.. jelas dong, pasti dramatic stories (alias pabrik airmata kata bang men..) sangat mengeksploitasi kesedihan orang lain..pake rekon lagi...aduhhh..makhluk apa itu..males banget ga seehhhh...ngomeeel terus tiap hari...proteeeesss terus..

dan gak cuma saya loh... hampir semua kru yg lain juga senada seirama dengan saya..sama sama tukang protes..hihihi..dan yang ketiban duren runtuh alias sering diomelin ama kru adalah mas didit..sang assistant produser.. terutama kalo kami lagi gak nyambung ama produser, bang mulia.. Siapa lagi yang kenaa??.. Mas didit orangnya..

Tapi kesabaran mas didit juga yg bikin saya dan teman teman lain terpacu buat berkarya disini.. beberapa senior juga ngasih semangat buat belajar di program ini.. Termasuk deyna haryanto..inget banget dia bilang '' udah..lupain aja nama programnya..yg penting sekarang kamu belajar Bikin naskah yg menarik..telling a story itu gak gampang lho din...kamu belajar itu dulu aja..''

saya pikir pikir bener juga sih..what the hell dgn nama program..ada hal baru yg bisa dipelajari di sini.. Mulailah..saya liputan..di kejamnya dunia..

September 2004

Bom meledak di depan kedubes australia di kawasan kuningan.. Saya juga ikut liputan disana untuk reportase.. Dan beberapa hari setelahnya.. Kd pun mengangkat topik tentang martinus sitania, korban bom kuningan yg tubuhnya hancur. Martinus sempat diduga sebagai pelaku bom bunuh diri.. Dan saya ditugaskan untuk meliput keluarganya... Sudah pasti kan..hujan airmata...

Hmmm.. Suasana haru masih terasa kental saat saya dan probo (kameramen) menjejakan kaki di rumah kecil itu..rumah keluarga martinus.. ada ayah, ibu dan adik martinus yang menyambut kami..
Ayah ibunya ternyata sudah berusia lanjut...namun masih dalam kondisi sehat..

Awalnya mereka tidak mau diganggu karena masih shock, dan terlalu sering diwawancara membuat mereka makin sedih.. ibu martinus pun sudah menangis sebelum kami wawancara..

Setelah ngobrol ngobrol, entah kenapa mereka bersedia kami wawancara .... Yg pertama adalah ibu martinus...dan hampir sepanjang wawancara sang ibu menangis...
lagi lagi entah kenapa saya tetap cuek bebek melihat tangisnya yang memilukan itu... Bagi saya.. wanita menangis adalah hal yang biasa... Namun di sela tangisnya dia berkata ''saya sebenarnya udah gak mau diwawancara lagi mbak... Saya tambah sedih kalo ingat terus..cuma karena mbak saya mau..ini yang terakhir saya mau diwawancara..'' wahhduuuhhh...... Perasaan bersalah mulai datang....tapi saya tepis itu...

Selain sang ibu, ayah martinus pun kami wawancara... Karena waktu itu saya memutuskan, cerita akan mengalir dari sang ayah... saya anggap ayah martinus akan terlihat lebih tegar untuk menceritakan peristiwa ini..

Setelah semua seting wawancara siap, mulailah pertanyaan demi pertanyaan saya ajukan.. Posisi duduk kami berhadapan..sang ayah menjawab dengan tegar..sesuai perkiraan saya.. Sampailah pada saat menceritakan kejadian tewasnya martinus.. sang ayah tiba tiba terdiam...menangis..tanpa suara... hening sesaat...

Dan apa yang terjadi pada saya????.... Saya sibuk..sibuk mengusap ingus dan airmata saya....
tak tahan rasanya melihat kakek kakek menangis...saya merasa sangat berdosa membuatnya menangis seperti itu... selanjutnya wawancara pun kami hentikan...dan saya berusaha menenangkannya ...

Sebuah tindakan yang kemudian saya sesali... Kenapa??.. Karena saya belum sempat menanyakan apakah sudah ada klarifikasi dari pihak kepolisian atas pernyataan bahwa martinus diduga sebagai pelaku bom bunuh diri..dan pertanyaan pertanyaan lainnya yang juga penting sebagai jawaban atas dugaan pihak kepolisian terhadap martinus..

satu pelajaran lagi dari kejamnya dunia... Walaupun program ini gak news banget awalnya..tapi sebagai jurnalis kami harus tetap menggunakan prinsip dasar 5W+1H dalam proses peliputan dan tidak terintimidasi dengan apapun termasuk perasaan dan emosi kami sendiri...

Sunday, August 14, 2005

sejauh apa langkahku?

ini hari kedua di lhokseumawe, nad...
masih berkutat dengan segala penat....
dari sebuah tugas yang berat...buatku
tugas yang tak mungkin dihindari..apalagi ditolak...
terasa bodoh sekali aku...
tak tahu apa yang sebenarnya kucari disini...
di tempat dimana terlalu banyak derita...
walau alamnya sangat indah...
apa yang kuperbuat disini?
apa yang bisa kulaporkan dari sini?
begitu banyak yang ingin dikatakan...
tapi... rasanya semua tak jelas...
bodohnya aku...
tapi kenapa harus aku?
manusia bodoh yang dipilih.....
atau mungkin ini akan jadi sebuah ukuran?
seberapa jauh aku telah melangkah disini...

Thursday, June 30, 2005

lagi

malam itu...
aku melukaimu..lagi..
sebuah luka yang sama...
seperti aku sengaja melakukan itu..
mengulangnya...menoreh lagi lebih dalam...
karena aku tau kau tak suka...

tapi...
sungguh..
tak bermaksud aku membuatmu terluka...
mengorek bekas luka yang dulu..

maafkan aku sayang...
sungguh aku tak ingin melukaimu...lagi...

panggung

"tuluskah hatimu..mencintai aku...."

malam ini... aris begitu ceria menyanyikan lagu lagu radja, band idolanya...
berjingkrak, melompat, teriak.. lepaskan sukacita...
mungkin tak pernah terlintas dalam benaknya menginjakkan hardrock cafe jakarta..walau hanya beberapa jam saja...

malam ini.. radja.. merayakan penghargaan double platinum atas penjualan album terbarunya... sekitar 6 lagu hits dibawakan radja..menghibur para undangan yang mayoritas adalah penggemarnya... termasuk aris yang sengaja kami hadirkan disana...

bermacam ekspresi tampak di wajah polosnya... mulai dari senyum, tawa, bengong sampai melongo.. melihat iyan sang vokalis yang jingkrak sana jingkrak sini...persis ayam mau betelur...

aris seorang pengamen.. pengamen bis kota di terminal kampung melayu... suara emasnya mampu mengalahkan deru mesin bis kota yang melaju di relung kota jakarta...
menemani penumpang yang terkantuk kantuk atau mereka yang hanya menatap nanar kemacetan jakarta...

aris dan radja... walau beda nasib.. toh mereka masih punya kesamaan... sama menghibur..menjajakan suara.. mengumpulkan rupiah demi rupiah...dari panggung ke panggung...

dan mereka punya panggung masing masing...

radja..sebuah panggung besar dengan sound system lengkap dan sorot lampu warna warni..

aris.. sebuah panggung.. di dekat kap mesin yang panas dan diantara ketiak dan bau keringat penumpang..

Sunday, May 08, 2005

Surabaya, Desember '96

"ooo...indah kuingat dirimu..bilang ingin kau bertemu..walau terlarang untukmu.."

:)
lama sudah rasanya aku gak dengar suara itu..

surabaya.. 9 tahun lalu..waktu yang cukup lama...
kenangan kenangan itu.. lalu lalang dalam bayangan...

cinta monyet..cinta sejati.. atau cinta pertama?...
entahlah..
yang jelas, semua kenangan itu adalah bagian dari proses kehidupan...

memang tak semua cinta bisa kita genggam erat selamanya...
tapi tetap aja.. silaturahmi itu gak hilang...
dan sekarang masih tetaplah sebuah proses bagi kita..
saat melangkah sendiri..
menemukan cinta yang lain...


"juwita..apa kabarmu?...aku rindu.."

Saturday, May 07, 2005

sebuah proses pendewasaan diri...

"friksi itu udah biasa din... setiap program pasti ada friksi di dalamnya.." begitu kata seorang teman malam itu..

iya sih.. emang.. friksi..konflik..pasti ada dimana mana..
mungkin cuma kadarnya aja yang beda....ada yang dikit..sedang.. ampe parah...sebulan marah marah...
hehe.. thanx to benu..yang membuat sisi gelapku bisa keluar dengan sempurna.. ;p

but it's over...
memendam emosi itu tidak baik...
tapi memang ada cara mengeluarkan emosi dengan baik...
nah yang itu aku emang blum tau... jadi bawaannya marah marah mulu'...
mungkin buat sebagian teman di program ini.. sikap benu bukan jadi masalah..
tapi buat aku itu masalah besar...

yup..memang tiap individu di program ini sangat unik...
tiap individu punya style masing masing... dan semua harus melewati proses adaptasi satu sama lain...
jadi..setelah kemarahan itu reda.. akal sehat kembali menyapa..
aku berpikir.. tidak ada yang salah.. antara aku dan benu...

then.. i think it's over..
lega duonch... ;D
tapi ternyata..aku gak sendiri...
di program ini.. yang semua anggotanya menyatakan keluarga.. yang aku rasa kompak lahir batin.. ternyata... sepertinya hanya kulit luar aja...
di dalam pun juga banyak konflik dan friksi.. yang aku gak paham..
persaingan.. kompetisi.. itu ternyata tetap ada disini...
padahal program ini cukup tidak menyenangkan itu dibuat bersaing... ;p
tapi...

yup.. that's a real life.. i must face it..and the show must go on..
but..however..it's very good lesson.. thanx to all crew..

"dunia tak sekejam yang kau kira...."
(pesan buat manusia yang membuat program kejam ini).. heheheh.. ;p

Wednesday, April 13, 2005

kejamkah dunia?

memandang indah senja losari...
menapaki jalanan sepanjang pantai...

dari balik teralis mata mata menyala...
tapi ada sebersit duka di sana...
tawa kosong napi penghuni lapas..

dan terdengar lengking nyaring suara aco'..
si pengamen cilik dengan gitar mungilnya...
diantara kerlip lampu kaki lima tanjung bunga...

entah otak atau hati yang tak berfungsi...
ketika tertawa disela ratapan dan keluh kesah...
entah akal atau nurani yang mati...
saat tersenyum diantara deraian air mata...

7 hari sudah di makassar...
yah.. 7 hari...

setiap hari hanya mencari penderitaan...
yang tidak hanya sekedar penderitaan...

begitu kejamkah dunia?...

senja di losari

di sini...
duduk disini....

angin semilir tenang..
tapi laut sedikit bergelombang...

sayang.. senja hanya remang remang..
tak ada kilau kemasan yang garang...

tapi aku tetap disini...
menikmati sendiri..

Friday, April 01, 2005

nenek wati..

"jangan nak... kasihan anak anak saya kalau lihat di tv...biar saya saja yang begini menanggung malu..." hanya itu yang terucap dari bibir peotnya..

nenek.. begitu ia kerap di sapa..terlunta lunta di emperan stasiun tanah abang dengan dua anak laki laki yang masih kecil...

umurnya masih 42 tahun.. belum pantas seharusnya untuk dipanggil nenek.. apalagi belum punya cucu.. tapi kenapa dipanggil nenek? "entahlah..mungkin karena penampilan saya yang kaya' nenek.." jawabnya..
yah... beban hidup yang berat membuat nenek wati lebih tua dari usianya..

nenek wati merantau ke jakarta dengan sejuta harapan bisa hidup lebih baik dari pada di lampung, kota yang menyimpan sejuta kenangan pahit dalam hidupnya. Di kota inilah.. suami tercinta menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan wanita lain..."saya cuma terima kuburannya aja" begitu sesalmu..
yah..laki laki yang dicintai hidup mati itu menikahi seorang janda kaya di bandar metro.. jelas tanpa sepengatahuan nenek wati... "waktu itu saya lagi pergi silaturahmi ke rumah saudara di palembang" jelasmu..

sepulang dari palembang kabar itu baru terdengar.. nenek..nenek.. betapa hancur hatimu menerima kenyataan itu.. padahal dulu.. semuanya ditanggung berdua.. pahit manis kehidupan dirasakan bersama.. termasuk saat abdulrahman, suamimu kena phk dari pt. pusri tahun 87 silam.. "tapi kami tak putus asa" katanya..

berbekal pesangon 11 juta, mereka buka usaha panglong kayu di palembang... dan sejak itulah semuanya seperti luruh entah kemana..
usaha panglong bangkrut karena ditipu rekan kerja.. "habis habisan uang.. buat bayar utang sana sini" katanya..

dengan sedikit sisa uang yang ada, mereka pindah ke bandar jaya.. berharap nasib bisa berubah disana.. "jadi buruh singkong juga tak apa, asal bisa makan dan anak anak sekolah.." matanya menerawang jauh..mengenang urutan kejadian yang membawanya ke jakarta..

dari bandar jaya keluarga itu memutuskan pindah ke bandar lampung.. mencari peluang usaha yang lebih besar.. nenek wati memang punya jiwa dagang tinggi.."saya pengen dagang kecil kecilan, biar baju bekas juga tak apa" selalu begitu katanya.

di bandar lampung mereka punya usaha pot tanaman.. suami istri yang kompak berdagang.. "suami buat pot, saya yang jual keliling" jelasnya. semuanya berjalan baik.. keluarga mereka hidup rukun... dan biar pas pasan, anak anak mereka masih bisa sekolah...apalagi sang suami mendapat tawaran pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah pelayaran di bandar lampung.

dan sejak itulah badai kembali menerjang kehidupan nenek wati.. sang suami tercinta bertemu dengan wanita lain..dan nenek watipun dimadu..
"sakit hati saya..tapi rela..ikhlas demi bapak biar nggak stress" paparnya sambil terisak.."mungkin sudah takdir saya dia nikah lagi"..

sebenarnya wanita mana yang mau dimadu?.. tapi nenek wati mencoba tegar.. demi anak anak ia rela berbagi kasih dengan janda kaya itu.. dan sang suami tercinta memilih untuk tinggal bersama istri mudanya.

usaha pot bunga yang mereka rintis pun usai sudah.. nenek wati hanya mengandalkan keahliannya memijat saja untuk menyambung hidup bersama 4 anaknya. apalagi waktu itu nenek wati sedang hamil anak kelimanya.

.."saya gak cerai..kasihan anak anak, lagipula suami suka datang kasih uang buat anak anak" jelasnya.. bahkan sampai akhir hayat sang suamipun wati tak tahu..

kematian suami tercinta 7 tahun lalu menambah muram hidup nenek wati..tak ada lagi sokongan dana untuk anak anaknya.. mereka terancam putus sekolah..tak hanya itu..nenek wati juga bingung akan tinggal dimana.. maklumlah..selama ini mereka tinggal di rumah sewaan.

hari demi hari nenek wati terus berusaha mencari langganan pijat..sambil berdagang pempek.. berpindah pindah tempat tinggal.. dari satu kontrakan ke kontrakan lain gara gara diusir tak bisa bayar sewa..gali lobang tutup lobang.. begitu seterusnya.. tahun demi tahun berganti.. sampai dimana nenek merasa tak sanggup lagi membiayai sekolah tiga anaknya..

dengan berat hati ia menitipkan tiga anak perempuannya ke sebuah yayasan panti asuhan, dengan harapan mereka bisa terus sekolah..."mereka masih ingin sekolah.."katanya.

nenek wati masih tetap bermimpi bisa cari uang banyak.. ia pun tergiur dengan tawaran seorang kawan untuk memijat di jakarta.."katanya di jakarta enak nek..bisa cepet kaya mijat disana"..dan dengan berbekal uang 200 ribu.. nenek wati merantau ke jakarta dengan 2 anaknya..uang itupun pemberian dari pemilik yayasan.

ternyata hidup di ibukota tak seindah yang dibayangkan.. malang benar nasib nenek wati.. uang bekalnya di bawa lari oleh orang yang dikira kawannya..

yah.. apa mau di kata.. nenek wati tak bisa berbuat banyak selain terus berjalan... berjalan..menyusuri jalanan panas jakarta.. menyelinap di gang gang sempit di tengah belantara jakarta.. menawarkan jasa pijatnya..

nenek..nenek.. apa yang kau rasakan pasti pahit.. sering diusir dari kos gara gara tidak bayar sewa.. sedang penghasilan dari jasa pijat hanya cukup untuk makan sehari hari.. pernah ingin bunuh diri tapi batal karena ingat anak..

nenek wati juga sering dihina dan diusir saat minta sumbangan... "siapa yang ingin jadi begini..saya malu minta minta..tapi saya kepepet..gimana lagi?" isak tangisnya makin menjadi.

nenek nenek... kau tetap berusah tegar..di tengah belantara jakarta.. berharap bisa kumpulkan sedikit uang untuk pulang ke lampung.. ke kota dimana 3 anakmu tinggal....

"jakarta kota yang indah nak.. tapi tidak semua indah yang kita rasakan..pahit jakarta..gak semua indah..."

Monday, March 28, 2005

kLiK....klik..cetak..cetuk..

klik..klik..
cetak..cetuk..

basah lagi..
basah lagi...

lagi lagi basah...
bikin aku tetap duduk di sini..
di lantai tiga..
di gedung sembilan lantai..

klik..klik..klik...
begitu dan begitu...
tapi tak kunjung ketemu..
apa yang kucari..

...."why do i still care for u..."
hmmm.. lumayan lah..
biar gombal lagu ini enak juga...

diantara klik klik dan cetak cetuk..
keybord dan mouse berlomba...
diantara rintik hujan tak juga reda..
aku masih tetap disini...

klik..klik..
cetak..cetuk...
cetak..cetuk...

jUm'at.. SaBtu..miNggU...

jumat..sabtu..minggu...
selalu begitu...
resah dengan urutan waktu..

saat jarak memisahkan kita..
walau cuma sementara...

tak tahu apa gunanya kuhitung terus...
toh... waktu akan terus berjalan bukan??..

harusnya tak perlu kuhitung lagi...
karna ku tahu kamu pasti kembali...

Saturday, March 26, 2005

tit..tut..kangen...

tit tut tit tut...
"K A N G E N..."

hhmmm...... KANGEN?...
yup.. kangen selalu kata itu yang terlontar setiap hari..
setiap kita berjauhan.. kata itu seperti obat mujarab, di antara bunyi titut..titut handphoneku..
dan selalu kubalas "kAnGeN juga..."

bahkan.. saat dekat pun itu sering terucap..
seberapa dalam cinta kita sayang??...
bagaimana mengukurnya??...
berapa meter dalamnya??...

aku tak pernah tahu dan tak akan tahu apa jawabnya..
yang jelas kutahu.. semua rasaku melebihi semua kata kangenku untukmu...

Friday, March 25, 2005

tante eva...

diujung loteng itu, dia merintih tertahan...
entah sakit apa yang dirasakannya..sakit badan atau sakit hati? entahlah...
dan tubuh lunglai itu hanya bisa terbaring.. tanpa daya, tanpa tenaga..
kurus kering seperti cacing..

eva, begitu warga sekitar memanggilnya.. hanya bisa menerawang menatap lobang genteng yang memayungi tidurnya, di sudut loteng itu..

padahal minggu lalu, eva masih bisa berjoget riang di tengah orkes dorong yang mangkal di warung dekat kosnya.. berjoget menghibur diri, diantara lelahnya bekerja jadi kuli..

kuli?... eva?... ya.. eva memang kuli bangunan.. walau pekerjaan kasar, eva punya jiwa wanita.. bahkan sebelum berangkat kerja, eva selalu merias wajahnya, seperti wanita karir layaknya...

kalau tidak lelah.. eva juga sering menjajakan tubuhnya di pinggir jalanan.. diantara remang malam.. tapi hanya tubuhnya.. bukan cintanya.. cinta eva hanya bertambat di pelabuhan hati seorang duda beranak satu..

eva..eva.. muhamad evandi seharusnya jadi nama yang gagah..
tapi eva seperti tak bisa melawan takdir.. entah pasrah atau menyerah..

diujung loteng itu, dia seperti meratap..
entah siapa yang salah.. sampai dia jadi begini.. wanita dalam tubuh pria.. lebih suka dipanggil tante eva di usianya yang kepala empat.. biar lebih wanita katanya..

di situ...di ujung loteng itu, di tengah hiruk pikuk kehidupan ibukota, eva coba untuk bertahan, walau umur terus berjalan, dan hidup tanpa tujuan..